Obat Kampung vs Obat Medis

Ternyata obat kampung alias tradisional memang lebih mudah dan mujarab tinimbang obat medis. Setidaknya menurut yang saya temukan sering kali. Di kampung kami, sekali pun depot obat dan atau klinik telah banyak, serta rumah sakit semakin murah dan mudah, obat tradisional masih tetap diminati oleh segenap generasi. Dedaunan dan bebungaan atau umbi atau akar oleh orang kampung dipercaya bisa menyembuhkan.

Dan nyatanya memang demikian. Anak-anak panas tinggi ditidurkan di atas pucun daun pisang, berkurang panasnya. Bisulan, dioleskan tumbukan daun ketela, sembuh dia. Cacar, disembuhkan dengan campuran air kelapa dicampur telur ayam kampung. Diare hanya mengandalkan daun delima muda atau buah-buahan kelat saja. Kecuali sakit hati, obatnya hanyalah tawakal kepada ilahi, tidak dengan dedaunan dan umbi. Wkwkwkwk

Banyak sekali obat tradisional yang kelak diramu sedemikian rupa, diekstrak, jadilah ia obat medis. Banyak sekali. Itu artinya, segala obat diramu dari alam. Bahan-bahan alami yang kemudian bercampur dengan olahan kimiawi, jadi mahal. Padahal jika saja kita yakin dan percaya pada bahan-bahan di alam, betapa murahnya obat-obatan.

Tapi ada satu obat yang saya kira orang-orang di kota, bahkan ahli medis pun tidak pernah menyangka. Tak lain dan tak bukan yaitu minyak tanah. Ada pun minyak tanah adalah obat untuk sakit perut. Bisa diolesi di perut atau diteguk beberapa tetes, sembuh sakit perutmu. Saya biasa mengolesnya dan tidak pernah mau mencoba meneguk. Sebab pernah saya lihat, seorang lelaki berbadan legam kampung kami yang sakit perut. Dia meneguk tujuh tetes minyak tanah. Satu jam kemudian sakitnya mutlak sembuh. Kesembuhan itu ditandai pula dengan tibanya orang kampung membawa kafan dan menggali kuburan. Besoknya, kami teman-temannya dengan sebagian sedih dan sebagian senang ikut datang ke rumahnya. Membaca doa dan menikmati kenduri kematian.