Tidak Boleh Sempurna

Hari ini, dari gulai masakan Bunda, istri Cutlot (Paman) Nawi, saya mendapatkan pelajaran besar. Tentang syukur dan segala doa-doa yang demikian teratur diijabah oleh Tuhan. Tentang kenyataan bahwa manusia memang tidak sanggup menanggung beban kesempurnaan bila diberikan. Tidak. Kita tidak mampu untuk menerima semua yang kita inginkan, tidak akan mampu jika semua sesuai khayalan. Sama sekali tidak mampu. Mungkin itulah mengapa hanya Tuhan yang memilikinya, sebab Ia Maha Segala.

“Bang Yeuk mau (makan) apa?” tanya Cutlot semalam ketika kami pulang dari studio rekaman.

“Gulai telur ikan. Euum, o, sambal jantung pisang aja. O jangan, ikan lubim aja. Ikan lado. Eumm, itulah pokoknya!” jawab saya dengan harapan akan dimasaki salah satunya.

Namun Cutlot sebagai orang tua saya tidak serupa duga. Dengan Bunda beliau belanja semua yang saya sebutkan semalam dan kepada Bunda diminta untuk menyiapkan sesuai rasa selera saya. Demikianlah, Bunda memasak semuanya. Dan semua itu adalah lauk kesukaan saya.

Dan perjamuan pun dimulai. Saya bahagia sekali, tentu saja. Ini serupa di kampung, di rumah Umi atau bersama istri. Bunda tahu betul takaran bumbu dan rempah serupa yang kuingini. Lalu apa? Di piring saya bersimbah maharaja semua lauk masakan bunda. Satu tercicip seiring nasi sesuap, lalu yang lain, yang lain. Selera saya memuncak. Tapi celaka, perut saya muntab. Tidak bisa mencerna semuanya. Lidah saya tidak bisa menikmati segala rasa. Sudah bercampur baur terlalu banyak sehingga tidak ada lagi yang spesial rasanya. Belum setengah piring, saya hampir mati rasa.

Dalam perjalanan menghabiskan penghargaan Bunda, saya berpikir, betapa memang kita terlalu serakah di kepala. Berharap beragam-ragam, ingin bermacam-macam, mau dikabulkan sehingga nantinya kita agak-agak akan mencapai kesempurnaan. Ternyata tubuh dan kemampuan kita tidak luas. Berbatas. Sehingga jika Tuhan segera memberikan semua, mabuk, hancur dan mungkin kita akan gila. Sebab setelah semua tercapai, kita tidak lagi bisa memilah yang pertama dan utama, tidak lagi indah segala.

Maha Sempurna Allah dan Maha Baik Ia yang telah memberikan nikmat dan luka sesuai kadar kesanggupan yang kita punya. Maha Sempurna Ia.