Apakah Kamu Berprestasi?

Dan sampai jumpa lagi, wahai manusia-manusia yang pernah Meet Up dan pernah rebutan bayar kopi teman. Apa kabar? Saya baik. Hanya saja ada beberapa pekerjaan rahasia yang membuat di sini jarang tiba. Dan percayalah, jarang tiba membuat kita canggung. Agak asing dan bingung. Saya hendak menulis apa? Entahlah, beberapa draf yang telah ditulis kisi-kisinya ketika dibaca kembali jadi rada aneh, rasanya tidak sesuai keadaan, tak sesuai cuaca, tidak pada tempatnya. Namun seperti biasa, ketika akalmu buntu, maka kebuntuan itulah ide terbaik untukmu. Hayyuuu!

Kita akan berbicara tentang prestasi. Orang-orang berpikiran sempit menafsirkan prestasi ringan saja. Cukup dengan melihat tinggi nilai pelajaran eksakta, sering rangking pertama, berulang kali dapat piagam atau piala, serta atau berkali-kali dapat beasiswa. Sementara padahal, prestasi itu adalah pencapaian, mempertahankan capaian dan membuat berbagai kebaruan.

Dan semua relatif. Termasuk prestasi. Maka semua orang memiliki prestasinya sendiri. Beda-beda prestasinya. Terkadang kita lupa atau luput menganggapnya. Prestasi tidak semata harus disaksikan atau diakui oleh banyak orang. Pencapaian, naik tingkat yang meskipun itu hanya menurut dia dan itu tentu tak perlu dianggap sama oleh orang lain, itu juga prestasi.

Prestasi itu tidak melulu harus dihargai dengan sebentuk piagam, plakat, nominal, atau piala. Bisa dirasakan sendiri belaka. Misal, bagi seorang playboy, berhasil mencintai dengan tulus sampai sebulan penuh dan masih akan mencintai lebih lama dari itu adalah prestasi. Bagi seorang pengangguran, berhasil membeli celana dalam merk Madelon adalah prestasi. Seorang malas mandi, seminggu penuh ia rajin mandi itu prestasi. Seorang insomnia, selalu tidur awal seminggu penuh juga prestasi. Seorang perokok berat berhasil mengurangi jumlah bakaran itu juga prestasi. Yang malas puasa Ramadhan kemudian jadi rajin puasa Senin Kamis hingga puasa-puasa sunat lain, itu prestasi. Seorang penikmat WC jongkok berhasil menaklukkan WC duduk itu juga prestasi. Yang biasanya kena kipas angin saja dilanda flu, sebulan penuh mampu tidur dalam ruang ber-AC dengan suhu 16°C itu pun prestasi.

Maka janganlah melihat prestasi dari sudut penghargaan orang lain. Diri sendirilah yang semestinya memberikan penghargaan terhadap diri sendiri. Kita harus terbiasa memberikan apresiasi terhadap pencapaian diri. Tidak kemudian menganggapnya biasa saja. Lalu kita bertanya, siapakah orang paling berprestasi? Jawabannya, kita sendiri. Semudah itu. Begitu!