Menaklukkan Ketakutan dan Anggapan Gagal

Adakah seseorang yang sama sekali tidak memiliki rasa takut? Agaknya tidak. Takut adalah satu bentuk sifat yang mengejawantahkan kemanusiawian manusia. Wajar ada. Wajar terasa. Takut yang wajar, tentu saja. Yang tak berlebihan sehingga serupa pengecut, trauma dan phobia.

Hidup adalah tentang mengambil keputusan terhadap beragam-ragam pilihan. Kita tidak pernah bisa lepas dari memilih. Di segala urusan, setiap waktu. Sejak jaga hingga kembali mengatupkan kulit mata. Mulai dari memilih bangun tidur cepat atau boleh ditelat-telatkan, memilih segera bangkit atau menghabiskan beberapa jenak untuk meronta-ronta di tilam, memilih langsung mandi atau tunggu sebentar, sarapan nasi atau cukup kopi dan cemilan, memilih pakaian, segera kerja atau bercengkrama dengan teman, dan sebagainya dan sebagai-bagai lainnya.

Takut dan berani juga tentang pilihan, tuan. Tidak akan ia berubah sendiri. Tiba-tiba dengan keajaiban kau ketakutan atau muncul berlipat-lipat keberanian. Tidak. Semua harus dimulai, dilatih dan dibiasakan. Maka dalam peri hidup, bila kau merasa tak sanggup atau takut mengambil keputusan terhadap satu dua perkara, satu-satunya cara untuk berani adalah dengan meyakinkan diri melawan ketidakmungkinan yang ada.

Bagaimana bisa? Bisa! Kau harus membuang keraguan. Hadapi saja dulu, biasakan. Jika sudah terbiasa, dengan sendirinya akan tumbuh padamu keyakinan dan kedigdayaan. Seorang teman saya takut pada katak, suatu waktu ia diberikan tugas di daerah rawa-rawa. Tempat katak beranak-pinak berkeluarga. Mau tak mau ia harus tetap di sana. Mulailah ia bekerja dalam keadaan mencekam, tapi ia tidak menyerah lalu kalah dengan katak yang notabenenya bisa dengan mudah dikalahkan. Dia berniat mengalahkan, dibiasakan untuk tidak ketakutan, biasa, maka sekarang sudah tidak takut dia. Kalau ada katak di rumahmu, bisa undang dia untuk tenaga pengusiran. Hihihi

Begitulah. Terkadang kita ketakutanlah yang membuat kita gagal. Dimulai dari takut bermimpi sebab takut gagal dalam menjalankan rencana kehidupan, atau barangkali takut ditertawakan lawan atau kawan jika kelak kamu gagal. Pentingkah? Tidak. Sebab ketika kamu gagal, mereka hanya bisa tertawa sementara di sisi lain kamu telah mendapatkan pelajaran berharga yang tidak mereka dapatkan ketika mereka menyepelekan kegagalanmu tempo masa. Berhasil atau gagal kamu telah mendapatkan keuntungan. Kamu tidak boleh terlalu peduli pada anggapan dan cemoohan siapa pun.

Mungkin juga kamu takut mengambil keputusan sebab merasa tidak mampu. Ayolah, kawan. Selama kamu berjalan, pasti kamu akan semakin dekat ke tujuan. Hanya tukang tidur dan lemah semangat belaka yang merasa terlalu jauh titik tuju yang diinginkan. Seolah sampai tak sampai ke riba harapan. Sementara kamu? Kamu dilahirkan dengan perjuangan ibu, malulah pada perjuangan ibumu itu ketika dalam hidup kamu jadi pengecut, serba tak berani melakukan sesuatu.