Bahkan Nabi pun Merasakan

Adakah kamu meragukan kebaikan dan kesucian seorang Rasulullah, Muhammad SAW? Sejak belia ia sudah diberi gelar al Amin alias yang dapat dipercaya. Namun begitu Muhammad diangkat menjadi rasul, di sanalah keraguan pihak yang berseberangan pikir dengannya muncul. Dihinalah ia, difitnah, dicoba bunuh, diserang, dan diperlakukan dengan bermacam keburukan. Adakah Muhammad SAW telah membuat kesalahan? Tidak. Sang mulia tersebut diberikan wahyu dan ditakdirkan oleh Tuhan sebagai rahmat bagi seluruh isi alam. Lalu apa yang membuat ia dibenci dan ingin dihabisi oleh sebagian orang? Sebab berbeda pemikiran, sebab tidak semua orang menginginkan kebaikan, tidak semua sepakat terhadap kebenaran.

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk atau Fairuz sebab dendam atas keberhasilan Umar menaklukkan Persia. Lalu Utsman bin Affan RA dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Ketahuilah bahwa beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang telah dijamin surga. Tentu saja seorang rasul tahu kebaikan sahabatnya dan jaminan surga pasti diberikan kepada orang yang baik semasa hidupnya. Namun fitnah tiba padanya ketika ia menjadi khalifah. Bahkan dalam satu riwayat dikabarkan jenazah saidina Ustman bin Affan RA ditolak dimakamkan di pemakaman muslim, maka kemudian ia dimakamkan di pemakaman yahudi. Kemudian Ali bin Abi Thalib, dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam yang dendam atas terbunuhnya sahabat mereka saat pertempuran Nahrawan.

Konon Abuya Muda Waly al Khalidi kabarnya meninggal setelah makan tape beracun yang diberikan oleh seorang kepercayaannya. Saddam Hussein dibunuh setelah fitnah politik besar-besar yang ditimpakan kepadanya. Begitu pula Mahatma Gandhi, Moammar Khadafi, serta Soekarno yang meninggal setelah kebencian politis di negeri sendiri.

Apa yang hendak disampaikan? Bahwa betapa pun engkau benar dan baik, tetap saja ada yang berbeda haluan, jauh temu hulu pikiran. Kesucian Rasulullah pun masih dipertentangkan dan ada yang meragukan, konon lagi kita yang selalu dikelilingi oleh dosa siang malam?

Sekarang betapa banyak orang yang membenci dan menyebarkan kebenciannya di berbagai ruang. Dengan kemerdekaan bertutur dan mengandalkan hukum yang melindungi kebebasan menyampaikan gagasan, maka semakin terbukalah ruang penebaran kebencian. Terlebih pula hukum terlalu sulit ditegakkan, tebang pilih serta rumit sekali pengurusnya. Baiklah sekarang ada semacam tindakan kepada para penebar fitnah dan kebencian, namun itu belum bisa meranggas ke semua kalangan.

Dan kejamnya media sosial. Kamu akan menemukan ujaran-ujaran penuh amarah, bertebaran berbagai fitnah, berseliweran kabar palsu di media-media milik pribadi yang seolah wartawan. Akun gosip menjamur. Anehnya, kita suka dan mengikuti perkembangan kabar yang diberikannya. Cobalah sesekali kau buka komentar di akun-akun tersebut. Ya Tuhan, serapah dan hujatan memenuhi postingan.

Adakah fitnah demikian hanya menimpa artis dunia hiburan? Nyatanya tidak. Saya membaca kabar-kabar terbaru yang menularkan kebencian, digalakkan kepada al mukarram ustadz Abdus Somad. Di media-media sosial dikatakan bahwa beliau ustad yang tidak boleh dipercaya, tidak lurus, menyesatkan, dan berbagai cap keburukan lain dialamatkan. Penggiringan massa dilakukan. Banyak yang terjebak, menganggap cap-cap itu benar. Meski tak kurang juga yang tahu bahwa itu semata fitnah yang menjadi aral kebaikan. Belum lagi mengingat fitnah yang bertebaran terhadap habib, kedua calon presiden, sesama caleg, sesama artis dan sebagainya.

Saat ini, ketika ghibah dan adu domba dengan mudah dilakukan, tanpa memilih dan memilah kelamin serta tingkat pekerjaan, tugas kita hanyalah menyaring. Tabayyun, bila sudah terlalu meresahkan. Lebih baik menghindari percakapan-percakapan yang memungkinkan tumbuh ghibah dan fitnah tinimbang duduk sama mengiyakan. Sebab antara yang memfitnah dan yang membenarkan, sama saja telah melakukan ghibah yang nyata tak menguntungkan. Sungguh telah Allah sampaikan bahwa fitnah itu melebihi kejamnya pembunuhan. Bila mudah terhasut dan terbawa, kita sudah berada pada zona yang memilukan. Tidak perlu menjadi Tuhan, menghakimi seseorang seolah-olah kitalah makhluk paling suci, paling benar.