Patron Kebanggaan Orang Tua

Sekarang apa yang dibanggakan oleh orang-orang tua? Anaknya kuliah ke Banda? Banda sudah tak jauh. Alumni Banda juga sudah tak dijadikan tenaga tingkat butuh. Anaknya mapan? Sudah tidak satu anak muda lagi yang jelas hidup punya pegangan. Rangking di sekolah? Sudah terlalu sadar mereka bahwa rangking tidak menjamin masa depan cerah. Lalu apa? Agaknya sudah tidak ada. Ada? Rasanya tidak.

Kusuruk setidaknya di kampung kami. Kasusnya nun jauh di Kuta Bakdrien, tempat saya belajar merangkak, mengenal hingga berlari main-main. Kampung yang tak pernah benar-benar maju tapi tak pula pernah diamuk remuk sepi. Tanpa kebanggaan terbesar juga tak ada yang membuatnya malu diakui. Tentang orang-orang di sini. Kebanggaan orang-orang kampung kami.

Pada masa kami masih SD-SMP, di Kuta Bakdrien sedang sangat nge-trend anak muda mahir membaca Alquran. Ada kebanggaan yang luar biasa di kepala dan jiwa orang tua kami ketika anaknya terpilih menjadi pembaca wahyu ilahi di masjid kelak pada acara-acara keagamaan. Itu benar-benar memotivasi. Rumoh-rumoh beut berlomba-lomba saling memproduksi para murid yang fasih membaca Alquran. Kami berlomba-lomba untuk lekas menguasai bacaan dengan fasih, baik dan benar.

Menjelang hari acara, ketika utusan tetua kampung mencari pembaca Alquran tiba, hati kami risau sebab takut tak terpilih nantinya. Orang tua kami yang sama-sama iri, diam-diam berdoa agar anaknyalah yang akan terpilih nantinya. Seleksinya ketat. Bukan hanya di sebuah balai mengaji, melainkan para utusan itu (mereka adalah qari-qari kampung yang sudah berpengalaman) datang ke setiap rumah mengaji. Walhasil, podium acara kampung kami pada saat itu selalu diisi oleh seorang pembaca Alquran yang memang sangat patut dari hasil seleksi ketat dan tak pilih kawan.

Kebanggaan. Sekali lagi ini perkara sesuatu yang sangat amat dibanggakan. Ibu-ibu kami di rumah akan terdengar merepet setiap kami pulang telat dari tanah lapang sebab dilenakan permainan. Di rumah mengaji, tuntutan memberikan talenta terbaik membuat kami harus tahan hati. Ditebas rotan, dilempar cangkir kopi, disepelekan dan dianggap tak pantas berada di majelis. Kami harus teguh sekali. Pantang goyang dan malu mundur meski hati sudah hancur sekali.

Guru-guru mengaji kami tega dan tegas. Tidak ada kompromi. Terkadang terkesan pilih kasih pada yang cepat menguasai. Nun di rumah, orang tua kami sekelindan dengan guru mengaji. Hanya perlu tahu kami bisa, tidak ada cerita lain. Kami terpaksa belajar dan dipaksa musti bisa. Jika gagal, maka itu menjadi cela. Cela diri, cela keluarga. Apakah cara ini berhasil? Paling tidak, silakan kalian datang meminta orang-orang sepantar bayaku, bacaan ayat mereka fasih dan makhrajal hurufnya sahih. Cobalah! Saya berani garansi untuk hal ini.

Masa bergulung ganti, berkitar kesana kemari. Kuta Bakdrien hari ini dalam hal mengaji tidak lagi semeriah dulu. Masih ada balai mengaji. Tapi tidak ada lagi rasa bangga yang teramat sangat hebat tersemat di sanubari ibu-ibu kami bila anaknya mahir membaca wahyu ilahi. Ada. Tapi itu sudah bukan jadi bahan pertandingan “kesombongan” lagi. Pahit? Tentu saja. Sakit sekali rasanya.