Game: Penjara Baru Kita

Tak bisa dipungkiri bahwa bermain adalah salah kebutuhan paling dasar serta paling urgen pada manusia. Selain bisa membuat bahagia, permainan juga bisa membentuk jiwa yang stabil serta pikiran yang lebih tenang dan baik. Sehingga terakhir-terakhir kita pernah mendengar semacam ucap sindir bagi mereka yang cepat marah di media sosial, “kurang main” atau “mainnya kurang jauh” atau “masa kecil kurang bahagia” yang bermakna sama: kurang terlibat dalam permainan. Ini jelas menunjukkan betapa sebuah permainan demikian berguna bagi kita.

Waktu berputar, permainan demi permainan ternyata mengalami pergerakan: hilang atau berkembang. Dengan teknologi canggih saat ini, permainan pun berpindah ruang. Tidak lagi di tanah lapang. Berganti lusuh, tak lagi berdebu dan luka mengaduh. Permainan saat ini lebih banyak menggunakan jari dan mata. Beda dulu, terkadang ekstrem dan butuh kuat tenaga.

Namun apapun itu, permainan tetap membawamu pada perasaan gagah perkasa bila berhasil menaklukkannya. Dari satu tingkat ke tingkat lain, terus naik dan melonjak. Kita tidak sedang membahas permainan yang dibawa ke lomba. Melainkan permainan yang hanya demi menghibur belaka.

Perasaan hebat dan perkasa dalam permainan ternyata sama memabukkan dari zat-zat berbahaya. Terbukti ketagihan bermain game sudah menjadi satu gejala yang meresahkan adanya. Tidak hanya tentang berkurangnya interaksi sosial para pemainnya dalam dunia nyata, namun juga tingkat kepuasan semu yang noktah belaka. Apa yang didapatkan dari permainan itu, tekun di situ, menghabiskan banyak waktu dan keseriusan di situ? Kebahagiaan sementara. Persis seperti seorang pemabuk berhadapan dengan Vodka. Kita sudah masuk penjara.

Kesemuan-kesemuan itu nyatanya memang melenakan. Kita terjerat di sana tanpa kuasa menarik diri ulang ke ruang normal. Dan demi kebahagiaan semu itu, kita terlanjur berserah diri. Menghabiskan apa pun untuknya dan belum terpikir berhenti.