Puput: Seperti Isabella, Kisah Cinta Dua Dunia

 

Saya bukan pecinta kucing. Bahkan mungkin sebaliknya. Saya agak terganggu mendengar eong dan menerima cakaran-cakaran bahasanya. Konon pula memelihara hingga membersihkan kandang sekalian kotoran-kotoran yang berbau menyengat itu. Tidak. Meski ia hewan kesayangan nabi, saya tidak bisa mendamaikan diri.

Sekian lama di rumah kami tidak ada kucing. Mungkin sebab Ayah saya, seperti saya, selalu terganggu dengan perilaku kucing kampung yang binal, nakal dan lapar. Yang apabila belum cukup kenyang dengan gagah berani mengungkit penutup saji tempat ikan-ikan diletakkan. Maka saya agak terkejut ketika suatu kali saat pulang kulihat seekor kucing berbulu putih-hitam menerima kedatanganku dengan penuh kemanjaan.

Adik lelaki sayalah pemilik kucing kampung itu. Lebih tepatnya, kucing itu datang sendiri lalu bermanja-manja dengan adikku. Jadilah dia diadopsi sebagai bagian dari penghuni rumah kami. Diberikan nama untuknya, Puput. Malas makan membuatnya terlihat kurus dan agak keriput. Dia benar-benar mencintai pemiliknya. Bila adik lelaki saya belum pulang, ia tidak tidur. Ditunggunya di depan pintu atau mondar-mandir dari pintu depan ke dapur. Bila adik lelaki saya pulang, Puput akan mengikutinya dan duduk manis menanti diberi ikan lebih dari yang dimakan. Baru ia akan tidur seiring adikku masuk kamar. Puput tidak buang hajat sembarangan di rumah. Tidak sekali pun. Dia keluar rumah, agaknya di tempat jauh.

Betapa terkejutnya keluarga kami ketika Puput diketahui hamil. Ia mengandung anak dari seekor pejantan berbulu kuning. Kucing bule yang tampan. Adik saya tidak bisa merestui hubungan beda warna yang menurutnya itu berarti beda agama dan beda budaya. Diusirnya dengan kejam kekasih Puput yang setiap malam datang bertanya dari balik pintu dapur rumah kami. Puput sedih. Dia lebih banyak menyendiri. Selera makannya payah. Pejantan kekasihnya telah pergi ke entah.

Hari-hari berlalu. Puput melahirkan tiga anak dari sekali persalinan. Satu betina, dua jantan. Namun jantan pertama tak sanggup lama bertahan. Kekurangan gizi sejak dalam kandungan karena ibunya malas makan membuat seekor jantan kecil belum bernama itu mati dua hari setelah dilahirkan ke dunia.

 

Tersisa dua anaknya. Malang pula, seekor lagi jatuh ke sungai tepi rumah kami suatu sore. Ditemukan jasadnya oleh Pa-Ank, adik sepupu kami. Puput makin sedih. Maka tinggallah Puput dengan seekor anak yang dibencinya. Anak yang sangat mirip lelaki yang pernah meninggalkannya. Berbulu blonde, bermata binar. Anak itu sangat manis. Dia kemudian diberi nama Erlis.

Saya bukan pecinta kucing. Tapi sejak Erlis lahir, saya mencintainya. Dengan saya dia bermanja-manja. Saya suka mengganggunya.