Erlis: Juwita Manis

Dia masih gadis kecil ceria, lasak dan manja. Satu-satunya anak Puput yang hidup dari perkawinannya dengan jantan blonde tempo masa. Anak benar-benar menjadi tanda abadi bahwa Puput pernah jatuh cinta tanpa pandang bulu. Anak yang celakanya menjadi korban dari cinta tak berestu.

Erlis yang manis. Kami sudah berjumpa dalam dua kepulanganku. Jumpa pertama masih belum kenal dan dia malu-malu. Jumpa kedua, dia telah berani mengganggu. Bila aku ke dapur, dia segera berlari mengejar. Mengeong dan mencakar. Diberi ikan, dia tidak terkejut lantas mengejar. Malah ia pura-pura tidak tahu letak ikan yang kuberikan itu. Beberapa jenak kemudian setelah tidak begitu diperhatikan, barulah ia menyantap ikan yang diberikan. Erlis cukup sopan dan pandai ia mengenyahkan kenyataan bahwa kucing begitu loba terhadap ikan.

Erlis genit dan jenaka. Bila kugerakkan jari kaki, ia meloncat meraihnya. Berguling-guling memainkan jari yang padahal setelah sekali tadi tidak kugerakkan lagi. Kalau ada sesuatu yang kugerak-gerakkan di tangan, lekas-lekas ia memastikan. Semacam penasaran. Lalu disentuhnya pula.

Kau tidak akan melihat Erlis bermuram durja. Mungkin sebab ia belum mengenal cinta remaja. Bila sendiri, ada saja benda yang bisa dimainkannya. Bila berdua dengan Puput, ibunya, dia akan mengejar dan meloncat ke punggung, bergelantungan di lehernya. Bila ada aku, dia menarik-narik ujung celana, ujung kain, atau bermain dengan jari-jari kakiku.

Bila laptop kubuka dan kuhidupkan, maka dia akan duduk manis di badan laptop itu: di keyboard sehingga menghalangi pandang dan kerjaku. Dipijak-pijak tuts sehingga menimbulkan bunyi ting-ting. Dan itu disukai.

Sama seperti Puput, Erlis juga bukan tipe kucing pengungkit makanan. Dia cukup terhormat sebagai piaraan. Sebab sering melihatnya dengan tingkah polah kegenitan, aku takut nanti jika jauh ia akan menjadi rindu yang selalu kutanyakan.