Main Tak Main-Main

Menurut riwayat, saya sudah bermain Top Eleven sejak tahun 2012. Itu setahun setelah permainan online ini diakuisisi oleh pihak Facebook. Saat Wifi warung kopi sangat amat digandrungi oleh para penikmat permainan maya. Pada masa itu, peminat Top Eleven di Banda Aceh cukup ramai, agak-agak ia menjadi game favorit kedua setelah Poker.

Saya tidak candu pada berbagai game online. Beberapa saja yang saya mainkan: Happy Island, Poker, Top Eleven, Zuma, Farm Heroes Saga, dan Domino. Jika dibagi secara kategori, game yang saya mainkan bertujuan dua hal: strategi (Poker, Zuma, Farm Heroes Saga, Domino) dan imajinasi (Happy Island dan Top Eleven).

 

Permainan-permainan strategi saya mainkan untuk membuat pikiran saya tenang dan secara tidak langsung membuat saya belajar dan terbiasa dengan kehati-hatian, penuh perhitungan, sigap dan tepat dalam mengambil keputusan, serta menggali filosofi pada setiap langkah yang diambil yang kelak akan membuatku kalah atau berhasil. Saya sangat serius mencari maksud dari permainan-permainan “strategi” itu, tidak sekedar main melepaskan suntuk.

Tak jarang setelah menyelesaikan beberapa langkah dari permainan kategori strategi itu saya langsung dapat membuka kebuntuan yang sebelumnya membingungkan. Kadang saya dapat ilham berupa kata-kata bijak tentang kehidupan. Ilmu dan filosofi hidup yang diamsalkan dalam permainan. Misal seperti pada Farm Heroes Saga, meski peluang menangmu 99%, jika kamu berfoya-foya membuang kesempatan penaklukan di awal, maka bisa jadi kamu akan kalah. Begitulah!

Sementara di lain sisi, ketika memainkan games yang saya kategorikan dalam bidang “kesenangan imajinasi” di sanalah khayalan-khayalan saya menguar sebebas-bebasnya. Saya membayangkan punya villa megah di pulau terpencil, di hadapannya bertabur bunga-bunga kecil di bawah hamparan kebun kelapa. Atau punya hotel yang asri. Beberapa batang palm tumbuh di depannya, taman bunga, dan sebagainya. Ketika mengkhayal demikian, merasa berbahagialah saya. Sangat bahagia.

Lalu saya merasa memiliki sebuah klub sepakbola. Di Top Eleven saya punya tim Persifitnah III. Itu artinya saya telah tiga kali berhenti dan kembali membangun tim di platform game ini. Untuk Persifitnah sayalah yang punya kuasa membeli dan menjual pemain, memilih kostum, filosofi, emblem, mengatur kebijakan klub. Setiap tim saya bermain, saya membayangkan sedang berada di pinggir lapangan. Meracik strategi dan merasakan bagaimana tim ini berjuang. Saya merasakan kebahagiaan luar biasa setiap tim menang. Merasa kecewa bila dikalahkan.

Dan hebatnya di Top Eleven, data klub disimpan dengan baik. Kamu bisa melihat sejarah klub yang kamu dirikan. Dan itu jadi motivasi lain pula. Terkadang kamu berjuang tidak hanya untuk menang. Pada masa tertentu kamu ingin menciptakan rekor-rekor atau mematahkan yang pernah kau buat sebelumnya. Saya serius sekali bermain ini. Seolah-olah nyata. Itu membuat saya sangat bahagia.