Ketika Temanku Curhat

 

Teman saya seorang yang panikan. Meski berulang kali mendengar lagu “Bek Panik” dari Apache13 dan sering bergaul dengan kami, agaknya lagu itu sama sekali tidak berefek padanya. Dia tetap sebagai dirinya sendiri, panik dan lekas frustasi.

Penyakitnya semakin parah setelah entah dimana ia belajar iri. Awalnya iri yang baik, semacam termotivasi untuk mendapatkan hasil dari proses seperti yang didapatkan oleh orang lain. Namun lama kelamaan penyakit irinya semakin ke kiri. Meski tak sampai ke tahap menghalalkan segala cara untuk meraih maksudnya, namun ia cukup ulet melakukan pekerjaan-pekerjaan persaingan dengan orang lain.

Namun ternyata iri hati tidak cocok duduk pada orang panikan dan gampang frustasi. Jika dipaksakan, ia hanya membuat pemiliknya sengsara setengah mati. Setidaknya itu saya dapatkan dari teman saya ini. Sebab iri yang memuncak atas temannya yang setiap playboy, ia berupaya keras jadi penakluk pula. Dicarinya buku-buku puisi yang penuh rayu asmara, dinontonnya film-film India dan korea, dikumpulkan berbagai quote romantis sebagai bahan menaklukkan hati para dara. Tak ayal, cara bicaranya pun mulai dilembut-lembutkan, gaya berpakaiannya mulai mengikuti trend ala-ala remaja milenial meski usianya sudah diambang dua sembilan. Tempat duduk mainnya mulai instagrameble, media sosialnya aktif bukan kepalang, sekali posting bisa sepuluh gambar dengan membubuhkan caption miskin seperti: no caption atau late post atau hanya emoticon senyum.

Usaha tidak mengkhianati hasil. Dia mendapat perhatian lebih dari dedek-dedek gemes masa kini. Di setiap postingannya selalu dapat pujian terhadap rupa dan tempat yang dipilihnya. Ia terlambung ke cakrawala. Jadilah ia merasa diri Casanova.

Melihat perhatian gadis-gadis putik itu, ia pun tak ayal segera menggunakan jurus merayu. Kata bijak nan puitis ditabur-tabur ke setiap pesan gadis. Beberapa diajak jumpa di tempat-tempat strategis. Di bagian ini dia sabar. Tidak buru-buru menaklukkan. Sangat sabar. Bahkan hanya untuk satu orang gadis ia berani mengajak sampai beberapa kali kencan. Setelah dirasa cukup dekat dan semakin sering berbagi emot love di pesan, di sanalah jaring ditebarkan. Satu ikan dapat, dua, tiga.

Namun temanku tetaplah dirinya yang panik dan frustasi ditambah iri hati. Kepanikan membuat ia was-was terhadap kemungkinan akan terciduk oleh pacarnya yang lain. Dia mulai pilih-pilih tempat main. Demi menjaga semua pacarnya tidak curiga, ia tak sekalipun membagikan foto mesra dengan pasangannya.

 

Tuntutan ikut trend dan bermain di tempat-tempat pilihan membuatnya sulit semakin jarang bekerja. Semakin sering dia bergantung bayar pada pacarnya. Sementara di ruang lain dia sudah terbiasa ikut model. Terbiasa ngetrend. Kebutuhan meningkat sebab tentu seminggu sekali ia harus membawa satu persatu pacarnya jalan-jalan. Dia mulai tertekan dengan keadaan.

Temannya yang diirikan itu memamerkan jam baru, baju mahal, jalan-jalan dengan pacarnya ke luar kota, nonton bioskop, dan sebagainya. Dia berhasrat pula. Tapi dia tahu, kemampuannya sudah tidak memungkinkan begitu. Teman saya frustasi lagi. Merasa kalah sendiri. Padahal temannya yang pamer itu tidak merasa memamerkan kelebihannya hanya kepada teman saya ini.

Frustasi membuat dia suka marah. Dengan kenyataan bahwa ia semakin sering mengandalkan keuangan pacarnya setiap jalan dan makan, betapa mudah bagi gadis-gadis itu meninggalkannya. Demikianlah, teman saya ditinggalkan oleh salah seorang pacarnya. Dan betapa celaka, dua hari setelah mereka putus, mantan pacarnya itu memamerkan pacar barunya pula. Panik dan iri, kawan saya lepas kendali. Dia pun memamerkan salah satu foto mesranya dengan salah satu dari dua pacarnya yang tersisa di media sosialnya. Sungguh tertebak, pacar yang tidak dipamerkan itu cemburu besar, marah luar biasa, dan segera enyah dari hubungan asmara mereka.

Tinggallah sekarang ia berpacar satu, meski di pesan-pesan media sosial dia tetap menabur madu. Dan entah bagaimana sekali duduk pacarnya membaca pesan-pesan binal itu. Teman saya panik, dia membanting HP-nya sendiri hingga hancur demi menunjukkan bahwa ia ingin bertobat atas dosa asmaranya tersebut. Tidak! Pacarnya patah hati. Dan pergi!

Teman saya yang patah hati, panik, frustasi dan iri hati itu datang ke tempat kami malam ini. Dia merencanakan balas dendam terhadap perlakuan pacar-pacarnya. Juga berencana membuat perlawanan atas kepameran temannya. Ketika ia bercerita, saya sedang mengetik cerita ini. Tidak melihatnya. Sementara teman-teman saya yang lain sekali dua menyahut di sela permainan PES yang sedang sengit sekali.