Tatacara Menghakimi

Seorang teman saya yang nyinyir dan suka menyindir itu datang ke beskem kami untuk menyerahkan diri. Katanya dia mau berubah, berhenti resah melihat kenyataan siapa saja serta apa saja dan berhenti lekas-lekas mengomentarinya. Kami diam saja mendengar ia menumpahkan pikirannya sambil sama curiga terhadap maksudnya.

Tentusaja kami boleh curiga. Sebab teman saya ini, sebelumnya selalu nyinyir pada apa yang kami lakukan, disindir-sindir segala yang kami kerjakan. Hari ini dia baik sekali. Datang bawa kopi. Pergi ke dapur mengambil gelas, menuangkan kopi yang ia bawakan tadi untuk semua kami.

“Ini sebagai tanda bahwa saya telah tobat, kawan-kawan. Saya ingin kita berteman. Tidak lagi berseteru diam-diam, ngomong di belakang,” ujarnya sesaat setelah kopi dituang.

“Kami baru saja membicarakan keburukanmu itu. Dan belum berniat berbaik denganmu,” kata teman saya yang kurus.

Teman saya yang suka menyindir itu terkesiap. Dikiranya semua akan mudah. Setelah sekian menit diam, dia kemudian membuka cerita lain. Bla bla bla, banyak sekali. Panjang sekali kisah dan ceritanya. Saya melihat dia kesepian, butuh teman dan ruang menyampaikan kesah keluh pikiran. Atau barangkali dia benar-benar sedang ingin kembali. Menjadi orang yang lebih banyak berpikir positif.

“Tunggu dulu. Kamu ingin berteman atau hanya sebatas ingin mengakui bahwa nyinyir dan suka nyindir itu tidak baik?” tanya saya memotong ceritanya.

“Dua-duanya. Agar kita bisa bekerjasama,” jawabnya.

Kami saling menatap.

“Kerjasama apa?” tanya teman saya yang tambun.

“Bikin lagu, mungkin!” ujarnya beragak.

“Tidak. Kita pernah kerjasama di bagian itu dan gagal. Kemudian kita bermusuhan. Kamu menyindir, kami membalas. Kamu menghina, kami balas juga. Itu tidak baik. Bagaimana kalau di bidang lain?” tegas saya.

“Saya hanya bisa melukis!”

“Kamu bekerja baik di bidang itu. Lukislah kami. Kami akan membeli lukisanmu,” saya yakinkan dia.

Teman saya yang nyinyir dan suka menyindir itu pulang juga setelah cukup bahagia dengan tawaran tadi. Dia berjanji segera akan menyelesaikan lukisan kami. Di belakangnya teman saya yang lain dengan heran bertanya mengapa saya masih mau bekerja dengannya.

“Dia tidak baik di satu tempat, bukan berarti tidak akan baik lagi. Dan tentu saja dia bisa jadi baik di tempat lain. Kita tidak bisa menghakimi dia berulang kali. Apa lebihnya kita ini?”

Teman-teman saya yang lebih muda itu serta merta mengangguk. Kami segera dapat sepakat bahwa kelak setiap orang akan kami hakimi sekali jika ia melakukan kesalahan sekali. Setelahnya dia diampuni. Namun jika diulangi, dia akan dihakimi lagi, sejumlah yang sama dengan kesalahan yang ia lakukan tadi. O, betapa mudahnya hidup ini.