Asmara Kabir-Esmeralda

Agaknya meski kisah Rangga-Cinta dan Dilan-Milea demikian populer adanya, di kampung kami tidak ada yang lebih dibicarakan dan dikagumi selain dari asmaraloka Kabir-Esmeralda. Kisah cinta tak ternyana.

Percayalah, Kabir tak lebih dari seorang pemuda malas, tak jelas juntrung, awut-awutan. Masa depannya ditaksir tak akan bersinar serupa karib kerabatnya yang rata-rata sudah mengadu nasib jauh di kota. Pemuda tak merantau tanpa alasan kuat seperti harus menjaga ibunda dan atau jadi penerus garapan lahan keluarga di mata orang kampung kami alangkah hina dina. Kabir berada dalam poros itu. Hina dina. Bahkan cara hidupnya kerap celaka. Suka mabuk-mabukan, di kampung berlagak preman sebab pandai silat dan nekat main parang. Celaka tak ketulungan.

Ia berjumpa Esmeralda, perempuan Meksiko yang tiba di kampung kami untuk sebuah penelitian sosial bersama tim mahasiswa Unsyiah. Salah seorang informan yang diwawancarai adalah Kabir. Kata berjumpa kata, tatap Kabir memisau ke mata Esmeralda, sering jumpa, sering bercanda, menyalalah api cintaaaa. Diaaaaa Esmeralda, lambang cintaaaa yang lara. Risau hatinya kala tersadar hatinya mulai tumbuh rasa. Bukan perkara cinta itu. Namun sebab ia tahu, lelaki yang dicintainya adalah bajingan kampung yang celaka tanpa ampun.

Teman-teman Esmeralda mengingatkan, gadis itu tentu saja mengindahkan. Tapi hatinya meronta, jiwanya gila bayang. Sementara Kabir tidak merasakan apa-apa. Hatinya fakir asmara. Bahkan ketika teman-teman Esmeralda menyampaikan kabar perasaan tersebut, Kabir tertawa. Pesan tiba padanya bertubi ulang, dia tetap tidak membalas.

Suatu malam, betapa celaka, Kabir mencuri tas Esmeralda. Di dalamnya hanya ada sedikit uang dan sebuah buku berisi curahan hati Esmeralda. Kabir membaca buku itu dan membuangnya. Dia datang ke rumah Esmeralda paginya, dikembalikan tas itu sembari menghina Esmeralda sebagai bule miskin yang mencoba mencari keuntungan dari mencintainya. Tidak. Esmeralda tidak bisa membenci pemuda jahanam yang dicintainya.

Hari-hari terakhir di kampung kami, Esmeralda mencari Kabir untuk mencoba menyampaikan langsung perasaannya. Mereka berjumpa di pasar. Di warung bakso Mak Etek. Setelah pesan makan minum, mereka makan. Tidak bicara. Begitu selesai makan, Kabir bangkit. Minta izin. Tinggallah Esmeralda merasa aneh dan asing.

Esmeralda membungkus barang-barang nya. Ia akan pulang ke Amerika bersama anggotanya. Pagi basah di Blang Bintang. Di Bandara internasional Sultan Iskandar Muda, Esmeralda duduk sendiri. Masih satu jam lagi jadwal keberangkatan. Dia menunduk antara pasti dan ragu-ragu meninggalkan pemuda jalang yang telah membuatnya jatuh cinta.

“Meskipun bajingan, aku gak mau pacaran. Kalau kamu mau menikah denganku, dari pertama jumpa aku sudah mau. Tapi kamu masuk agamaku dulu. Itu kalau kamu mau!”

Suara Kabir. Bajingan itu tiba di detik-detik penting, seakan menjawab keraguan perempuan yang mencintainya dan dibuat ragu olehnya. Esmeralda terkejut. Haru biru tak terbayang kata. Bandara dipenuhi bunga-bunga.