Amsal Sebuah Keputusan


Selalu ada kekuatan. Barangkali ia datang di hadapanmu, nyata dan terang. Bisa pula ia muncul dari belakang, sunyi dan diam-diam. Atau mungkin di sampingmu, dari kiri-kananmu.

Kamu harus punya teman yang tepat. Yang membawa engkau ke ruang baik dengan baik, meski mungkin sedikit menjerat. Dia yang menggenggam tanganmu erat-erat dalam keadaanmu sekarat.

Kamu harus segera berhasil membaca maksud baik yang lugas maupun yang amsal. Kamu harus membuka diri, meluaskan hati dan pikiran. Berpikir bijak tentang kemungkinan jalan yang akan kau layang tapak. Bagaimana kalau ini benar, bagaimana jika salah kemudian? Kamu harus pandai mengambil iktibar lalu cerdas menyatakan keputusan.

Namun kau lupa, betapa terburu-burunya kamu menutup pintu. Teman-temanmu masih di dalam, terkunci namun saling menggenggam. Persis seperti yang mereka lakukan jauh-jauh hari sebelum di rumah ini kau diberi kamar.

Masih ingat kau, berapa kali kutanya padamu perihal penerimaan? Bahwa seburuk-buruk rumah, ke sanalah engkau akan berpulang. Persinggahan hanya akan menerimamu sementara, saat engkau mampu membayar sewa. Setelahnya, kau hanya mendapatkan kenangan belaka. Sudah kuingatkan, berulang-ulang. Tak pernah kau indahkan. Sekarang, lihat buktinya, barangkali dalam sunyi kau baru merasa bahwa ucapanku benar. Di sana, kala sendiri kau hanya akan menjadi seorang penuh penyesalan. Apa daya? Sudah tak ada pintu yang terbuka meski kau ketuk berulang kali kala pulang.

Selamat berenang. Sebuah bahtera besar tidak akan selamanya berdiam di dermaga. Ia akan terus berlayar menaklukkan setiap nusa. Coba ingat lagi, ajakan melompat dari buritan yang kau patuhi. Orang yang mengajakmu itu, adakah ia mampu membawamu berlayar sejauh bahtera ini? Aha, selamat berenang hingga ke tepi. Nikmati ombak dan gejolak laut ini. Kita tidak akan berjumpa lagi.